Minggu, 06 April 2014

One Day, One Juz Sahabat...

13 MANFAAT MEMBACA AL - QUR'AN


Bismillahirrahmanirrahiim

1. Ayat-ayat al-Qur'an yang dibaca setiap hari akan memberikan motivasi dan penyemangat bagi si pembacanya.

2. Ketika membaca al-Qur'an, Allah akan menegur diri kita pada setiap ayat-ayat-Nya.

3. Bacaan al-Qur'an yang melibatkan emosi akan memberikan kedamaian dan ketenangan yang tidak bisa dilukiskan, seperti yang dialami dan dirasakan oleh Sayyid Quthb Rahimahullah.

4. Orang yang membaca al-Qur'an akan senantiasa ingat Allah dan kembali kepada-Nya.

5. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kecukupan dan nikmat Allah meski ia merasakan serba kurang di dunia.

6. Ayat-ayat Allah akan menjadi penjaganya selama ia hidup di dunia, karena ia telah menjaga ayat-ayat-Nya.

7. Orang yang paham al-Qur'an adalah orang yang memiliki banyak ilmu.

8. Orang yang membaca al-Qur'an bagaikan orang yang sedang menyelami samudera kehidupan, dan mengambil manfaat darinya.

9. Orang yang selalu akrab dengan ayat-ayat akan diberikan jiwa yang sejuk, hati yang damai dan pikiran yang jernih, sehingga membuatnya ingin selalu beramal, kreatif, inovatif dan produktif.

10. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kegembiraan dan penuh harapan, di saat orang lain merasakan kesedihan, kecemasan dan rasa pesimis. Karena diri mereka selalu dipompa dengan siraman ayat-ayat-Nya yang lembut.

11. Orang yang rajin membaca al-Qur'an akan selalu diberikan jalan kemudahan dan petunjuk sehingga tidak mudah untuk menyimpang dan menyerah karena ayat-ayat Allah akan selalu mengingatkan dirinya ketika dirinya 'tersandung dosa dan maksiat.'

12. Orang yang membaca dan menjaga al-Qur'an selalu berada dalam lindungan dan penjagaan Allah.

13. Ayat-ayat al-Qur'an mengajak pembacanya untuk senantiasa berpikir, merenung dan beramal sebanyak-banyaknya.

Dan masih banyak manfaat-manfaat lainnya yang terus update dengan kondisi kehidupan kita ... Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu belajar dan meningkatkan diri untuk lebih dekat lagi dengan al-Qur'an ... Amiin ...

Sumber: cikoc212.blogspot.com

#IndonesiaMengaji

Tahukah sahabat?

Abdullah bin masud ra berkata :

"Barangsiapa membaca 'tabarakalladzi biyadihil mulku....' setiap malam maka dengan surat itu Allah akan mencegahnya dari adzab kubur.

Pada zaman Rasulullah saw kami menamakan surat itu 'al mani'ah' (yang mencegah). Surat tersebut dalam Alquran..

Barangsiapa membacanya pada waktu malam maka dia telah memperbanyak (tilawah) dan memperbaikinya"

(Hr.nasai dan hakim meriwayatkan hadits serupa serta menyatakannya shahih)

Masyaallah... mulianya Alquran. Begitupun pada setiap surat surat di dalamnya..



Sabtu, 05 April 2014

Indahnya Menjadi Minoritas

YOU CAN BE ANYTHING, AND BE MINORITY!
Oleh Sukiman
 
Kontribusi Pendidikan
Tidak berlebihan predikat sebagai pengawal masa depan bangsa diberikan kepada guru. Pasalnya, pendidikan masih diyakini secara umum sebagai
cara terbaik untuk mempersiapkan generasi masa depan. Masa depan adalah milik generasi muda saat ini, oleh karena itu bagaimana kondisi generasi masa depan sangat ditentukan oleh kualitas peserta didik yang saat ini masih di meja pendidikan. Demikian pula halnya, kondisi para pemangku kepentingan (stake holder) saat ini dari lapisan bawah sampai dengan lapisan atas adalah cermin dari ”keberhasilan” pendidikan masa lalu, setidaknya pendidikan yang diterima pada masa lalu berkontribusi terhadap keberadaan mereka saat ini. Jika sekarang ini ada yang menjadi koruptor, manipulator, dll., menunjukkan ada sesuatu yang salah dari proses pendidikan yang mereka terima pada masa lalu.
Dan karena itu, apabila produk antagonis pendidikan tersebuttelah mewarnai kebanyakan orang, patut dipertanyakan dan mendapat perhatian dari insan pendidikan terkait dengan sistem penyelenggaraan pendidikan yang dijalankan selama ini.
Suatu hal yang terterima secara umum dinyatakan bahwa pendidikan yang berhasil ditandai, salah satunya adalah produk kelulusan siswa. Siswa yang bermutu adalah siswa yang terukur mutu pendidikannya. Dalam prakteknya mutu pendidikan diukur dari angka-
angka yang diperoleh lulusan setelah mereka menempuh satu tahapan belajar dalam kurun waktu tertentu (UTS/UAS) ataupun ujian akhir nasional (UAN). Sementara alat ukur penentu kualitas lulusan berupa paper and pencil test, suatu alat ukur yang hanya terkait dengan salah satu aspek pendidikan, yaitu kognisi. Sementara aspek lain, khususnya afeksi tak terjangkau dengan alat ukur tersebut. Pada hal aspek afektif berbicara tentang pertumbuhan perasaan, nilai-nilai, apresiasi, antusiasme, motivasi dan sikap (Krathwohl, Bloom, Masia, 1973). Satu aspek yang keberadaannya sangat dibutuhkan agar seseorang dapat hidup dengan nyaman dengan lingkungan (to life together). Pendidikan yang mengembangkan aspek kognisi, dalam prakteknya mengutamakan rangsangan pada aspek logika-matematika dan bahasa serta keterampilan, sejatinya baru memberdayakan otak kiri. Sementara itu otak kanan yang notabene berisi daya kreatif, seni, imajinasi, angan-angan, dan ”melihat gambaran secara menyeluruh” belum mendapat rangsangan yang sama sebagaimana perangsangan yang diberikan pada belahan otak kanan. Ketimpangan perlakuan pendidikan ini diangkat dalam suatu perumpamaan apik oleh Tony Buzan (2005), pemilik hak paten Mind Mapping, sebagai berikut:
”Jika kami meminta Anda untuk berlari jarak pendek dengan ”seluruh kemampuan”, yaitu menggunakan kedua tangan dan kedua kaki, dan kami merekam penampilan Anda untuk mengamati efisiensi Anda, barangkali Anda akan melakukannya sesuai dengan aturan yang baik, atau bahkan sangat baik. Tetapi jika kami meminta Anda untuk mengulangi kegiatan ini, dengan hanya memperbolehkan Anda menggunakan separo kemampuan Anda. Untuk itu, kami mengikat pergelangan tangan kanan Anda ke pergelangan kaki kanan Anda dan meminta Anda untuk mengulangi lari jarak pendek. De
ngan setengah dari kemampuan yang Anda miliki, apakah hasil yang Anda capai juga menjadi setengah efektifnya? Jelas tidak. Hasil yang dicapai akan berkurang keefektifannya.”
Dari penjelasan Tony Buzan tersebut menengarai bahwa jika aktivitas berfikir hanya menggunakan daya dari satu belahan otak, diibaratkan seseorang berdiri dan berlari dengan satu kaki. Oleh karena pemberdayaan kedua belahan otak, sinergi otak kanan dan kiri, akan menjadikan hasil kerja lebih efektif.
 
Masalah Pembaharuan dalam Pendidikan
Penyikapan segera untuk mengatasi kesenjangan yang terjadi dalam dunia pendidikan tersebut mendesak untuk segera dilakukan. Sat u langkah ke arah perbaikan dilakukan pemerintah, dimulai dari pengubahan paradigma pendidikan, yakni dari pembelajaran yang berorientasi kepada guru (Teacher Centered Oriented) berubah ke pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (Student Centered Learning), yang dikenal dengan pembelajaran berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), dan konsekuensi logisnya terkait dengan kurikulum yang semula berbasis isi (KBI) berubah pada kompetensi. Perubahan dari KBI ke KBK dalam prakteknya tidak serta merta dapat dilaksanakan oleh pelaku pendidikan. Hal ini dikarenakan pengubahan kebiasaan lama ke kebiasaan baru menyangkut kepemilikan penguasaan pengetahuan terhadap sesuatu yang baru, menuntut keterampilan baru dalam mengaplikan pengetahuan, dan yang tak kalah penting adalah keinginan (good will) pelaku pendidikan untuk melaksanakan perubahan. Pemerolehan kebiasaan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:



Ketiga faktor penentu pembentuk kebiasaan baru, yakni pengetahuan, keterampilan, dan keinginan keberadaannya merupakan satu kesatuan yang mengikat satu dengan yang lainnya. Sebab pengetahuan tanpa keterampilan dalam menerapkan pengetahuan, hanya berhenti pada tataran teori. Sebaliknya penerapan keterampilan tanpa landasan teori akan menghasilkan tindakan yang bersifat coba-coba. Dan kedua faktor disebut pertama tidak akan ada maknanya manakala tidak ada faktor ketiga, ialah keinginan dari subjek untuk melaksanakannya.
Ada dua kompetensi yang diperlukan oleh guru untuk menimbulkan dorongan kuat untuk mewujudkan keinginan melakukan kegiatan, yaitu Inner Competencies, dan Outer Competencies (Taufik Tea, 2009).
Inner Competencies meliputi kecakapan dalam mengelola hal-hal yang berhubungan dengan dunia internal guru, mencakup kemampuan memahami hakikat belajar, meresapi hakikat mengajar, mengetahui prinsip belajar dan mengenali peserta belajar. Kecakapan ini disebut sebagai soft skills guru. Sedangkan Outer Competencies, adalah hard skills guru, yaitu sebuah kompetensi mengelola potensi dari luar diri guru, yaitu: menyiapkan materi pelajaran, mengelola kelompok, menyampaikan pelajaran, mengkondisikan kelas. Dengan kedua kompetensi tersebut, penerapannya dalam kegiatan belajar-mengajar akan menghasilkan peserta didik yang memiliki hard skills, yakni pengetahuan (knowledge); keterampilan (skills), dan soft skills yang berupa kemampuan interpersonal, intrapersonal, ekstrapersonal.
Kesegeraan berubah seperti yang diharapkan, tidak mudah terjadi. Hal itu dikarenakan adanya bayang-bayang yang menghambat kemampuan guru untuk mengadakan perubahan, di antaranya adalah pembatasan kemampuan yang diciptakan oleh guru itu sendiri, seperti ungkapan: ”Apa saya mampu melaksanakan perubahan semacam itu?” Sejatinya pertanyaan tersebut telah dijawab Thomas Gordon (1975) yang menyatakan:”Teacher is not born, but built”, artinya pelaksanaan tugas, peranan dan fungsi guru dapat dibentuk, dilatih. Karena memang kemampuan tersebut tidak dibawa seseorang dari lahir. Sesungguhnyalah setiap orang dapat menjadikan dirinya seperti apa yang dia mau. Karena semua anak cerdas (Armstrong, 2005), dan Gardner (dalam Dryden & Voss, 2001) kecerdasan tersebut bersifat jamak Lewat beragam kecerdasan itulah seseorang memiliki peluang untuk mewujudkan kemauannya.
Perwujudan diri guru sebagai bentuk dari kemauannya dikuatkan oleh Satre, seorang filosuf, yang mengatakan: ”I choose there for I am”, aku adalah pilihanku, dan karenanya aku bertanggung jawab atas pilihanku. Menurut Robert T. Kiyosaki (dalam Amir Tengku Ramli, 2005) pilihan kemauan guru tersebut masuk dalam cakupan paradigma guru, yang dapat dikelompokkan dalam 2 tipe dasar, yakni paradigma to have (memiliki) dan paradigma to be (menjadi).

Dikatakan bahwa paradigma To Have (memiliki) merupakan suatu gagasan atau pola pikir seseorang yang cenderung dan mengutamakan pada kebutuhan materi, sedangkan paradigma To Be (menjadi) adalah gagasan atau pola pikir yang cenderung pada nilai-nilai non materi. Dengan demikian kedua paradigma tersebut memiliki penghuni yang berbeda, sesuai dengan cara pandang guru terhadap pekerjaannya. Bertolak cara guru memandang pekerjaannya dapat dikelompokkan dalam 4(empat) kuadran utama, yakni: guru pekerja, guru profesional, tercakup dalam paradigma To Have, dan guru pemilik, dan guru perancang, masuk dalam paradigma To Be, yang dapat digambarkan sebagai berikut:

Paradigma To Have, meliputi:
Kuadran 1: Guru Pekerja.
Guru pada kuadran 1, adalah mereka yang sebatas melaksanakan pekerjaannya. Kondisi guru ini menyukai kemapanan, rutinitas yang menjadi tanggung jawabnya, tidak ada keinginan untuk berubah. Kalaupun ada keinginan berubah hanya sebatas kata-kata. Perilaku yang ditampakkan adalah ’mengajar dengan cara yang sama tentang hal yang sama kepada orang yang berbeda’.
Kuadran 2: Guru Profesional.
Guru yang memiliki profesionalitas, dengan harga tertentu. Termasuk dalam kuadran ini ialah guru yang menyukai tantangan dalam mengajar. Senang dengan pekerjaan mandiri, tidak rutin tapi memuaskan. Perilaku yang ditampakkan adalah ’mengajar dengan cara yang sama, tentang hal yang berbeda, kepada orang yang berbeda’.
Paradigma To Be, meliputi:
Kuadran 3: Guru Pemilik.
Guru yang ahli (expert), menjadi pusat intelektual dan mampu mengendalikan sistem. Dikatakan sebagai guru pemilik ialah apabila guru memiliki keahlian (pemilik), tidak hanya terkait dengan pengajaran, tetapi juga memiliki kemampuan mengendalikan sistem, sehingga guru pemiliki merupakan menjadi bagian dari kelompok pengambil keputusan. Pada kuadran ini guru menjalankan sistem secara strategis, untuk mengendalikan diri dan orang lain bagi kemajuan lembaga.
Kuadran 4: Guru Perancang.
Disebut sebagai guru perancang ialah mereka yang memahami makna profesinya, memiliki visi dan merancang pengajaran secara hidup. Karenanya guru dalam kuadran ini berfungsi sebagai perancang masa depan pengajaran, bersifat inovatif, senang pada ide/gagasan inovatif yang menjadikan diri guru sangat berarti.
Ditilik berdasarkan kuadran guru, keadaan guru yang ada sekarangan ini cenderung berada pada paradigma To Have, dan sedang diupayakan kearah kuadran 2, yaitu guru profesional sebagaimana dimaksud dengan sertifikasi guru. Oleh karena itu mengingat apa yang kita lakukan sekarang ini adalah untuk kepentingan masa depan, maka ke depan perlu diupayakan perpindahan dari paradigma dari To Have ke To Be. Untuk melakukan perpindahan paradigma ini, guru harus melakukan perubahan secara mendasar, yaitu cara pandang terhadap pengajaran, bahwasanya pengajaran yang menjadi tanggung jawabnya adalah sebuah profesi yang terus menerus memerlukan perubahan seiring dengan perkembangan jaman, kalaulah tak ingin profesi ini tenggelam dalam perubahan jaman. Prahalad mengatakan: ”If you don’t change, you die!” suatu peringatan yang realistis.
Upaya ke arah terjadinya suatu perubahan, tidak selalu mulus jalannya. Banyak hambatan yang dijumpai, dan tak sedikit usaha yang mengalami kegagalan. Menyikapi kegagalan yang mungkin dialami guru dalam upayanya mewujudkan perubahan dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab, guru dapat berguru dari pengalaman, baik pengalaman diri sendiri, kolega maupun para tokoh. Sebut saja pengalaman Thomas Alva Edison. Terhadap pengalamannya dalam menciptakan bola lampu ia mengatakan bahwa:”Satu persen inspirasi, sembilan puluh sembilan usaha keras.” Selanjutnya Edison menegaskan bahwa dirinya tidak pernah gagal, ia hanya butuh proses penemuan sebanyak 2000 kali (Nistain Odop, 2007).
Seperti diketahui bahwa penciptaan bola lampu baru berhasil pada percobaan yang ke 2001 kali. Dengan kata lain, bila dilihat dari satu sisi (negatif), Thomas Alva Edison mengalami kegagalan sebanyak 2000 kali. Tetapi dari sisi yang lain (positif), kegagalan tidak dirasakan sebagai upaya yang gagal, tetapi dikatakan bahwa ia menemukan 2000 cara yang salah dalam menciptakan bola lampu. Cara pandang ini berdampak pada aspek psikologis, seseorang tidak lantas patah semangat akan usaha yang dilakukan, sebaliknya akan menimbulkan motivasi baru dalam bentuk tindakan yang inovatif dan kreatif.
Pada umumnya orang terkagum-kagum atas prestasi yang diraih oleh seseorang dalam suatu bidang tertentu, seperti Thomas Alfa Edison tersebut. Kecenderungan orang tidak menaruh perhatian terhadap proses yang dialami Edison sampai dengan dia berhasil menemukan bola lampu tersebut. Dua ribu kali percobaan belum menemukan cara yang benar dalam menciptakan bola lampu, tidak menarik minat banyak orang untuk mempersoalkan, misalnya bagaimana menjaga diri agar tetap bersemangat? Bagaimana cara menemukan ide-ide kreatif ke arah cara baru yang harus ditempuh? dst. Kebanyakan orang lebih suka berbicara tentang hasil, daripada proses. Padahal suatu hasil dapat diwujudkan hanya melalui proses. Karenanyalah proses harus dijadikan pengalaman. Karena pengalaman adalah guru yang paling baik.
Berguru pada Pengalaman
Pengalaman Thomas Alfa Edison mengajarkan kepada kita, bahwa ia tidak menyoal seberapa sering kegagalan dialami, tetapi mengajarkan kepada kita berapa kali ia mampu bangkit dari kegagalan. (Dua ribu kali bukan?). Di sini juga mengandung arti bahwa bangkit dari kegagalan memiliki arti tidak mengulangi cara yang salah, tetapi mencoba banyak cara (dua ribu cara) yang dicoba, dan akhirnya cara yang ke- 2001 itulah cara yang benar, dan akhirnya diperoleh suatu keberhasilan. Pernahkah anda mengalami kegagalan? Seberapa banyak kali anda mampu bangkit?
Kebangkitan dari kegagalan sejatinya ada rasa kesusahan, ketidaknyamanan tetapi ada upaya untuk ke luar dari ketaknyamanan tersebut. Sebagaimana layaknya orang pada umumya, Thomas Alva Edison pastilah juga merasakan hal yang tidak mengenakan sewaktu mengalami ketidakberhasilan dari suatu usaha yang dijalankan. Akan tetapi dirinya tidak fokus pada masalah sewaktu menghadapi masalah, akan tetapi fokus pada solusi. Masalah sesungguhnya bukanlah masalah, tetapi sikap seseorang dalam memandang masalah itulah masalah yang sebenarnya. Jika seseorang tidak mempersoalkan masalah, masalah bukan masalah (Nistains Odop, 2007). Dan bahkan untuk suatu kemajuan, orang harus berani keluar dari zona aman, zona nyaman, dan mampu bertahan dalam zona tak aman tersebut sampai dengan diperolehnya zona aman baru. Ke luar dari zona aman adalah masalah.
Zona aman, nyaman yang diperoleh sesorang pada saat sekarang belum tentu aman, dan nyaman untuk masa depan. Karena itu berani ke luar dari zona aman merupakan langkah awal menuju ke zona aman, nyaman selanjutnya. Dengan demikian ketidaknyamanan dalam rangka memperoleh suatu perubahan adalah proses mendapatkan kenyamanan baru. Karena itu, kesulitan, kesusahan, dan bahkan kegagalan yang kesemuanya merupakan bentuk ketaknyamanan tidak boleh dirasakan sebagai sesuatu yang menghambat, tetapi seharusnyalah diterima sebagai satu paket dengan keberhasilan. Kegagalan dan keberhasilan ibarat dua sisi mata uang. Dari contoh kasus penemuan bola lampu di atas, Thomas Alva Edison akan dapat dikatakan gagal dalam menemukan bola lampu manakala ia berhenti pada eksperimennya yang ke-2000. Tetapi ia mampu bangkit dan melakukan eksperimen yang ke 2001 kali, dan akhirnya berhasil. Dengan demikian jarak antara kegagalan dan keberhasilan sangatlah tipis.
Memang, kadang upaya kreatif untuk menciptakan sesuatu yang baru mengundang komentar-komentar miring dari lingkungan, menjadi bahan gunjingan dan bahkan tertawaan. Sebut saja si Alexander Graham Bell misalnya, ia ditertawakan dan ditolak oleh presiden direktur perusahaan Western Union sewaktu meminta harga US$ 100.000 untuk karyanya. Dan kenyataan berbicara lain, bisnis Bell kemudian menjadi jutaan dollar dan perusahaan AT&T lahir (Nistains Odop, 2007).
Mejadi yang Terbaik
Sampai saat ini jumlah orang sekelas Thomas Alva Edison maupun Alexander Graham Bell hanya sedikit. Mereka minoritas. Hal ini menandakan bahwa untuk mencapai suatu puncak prestasi tidak mudah, butuh ketahanan, keuletan usaha di atas rata-rata orang pada umumnya. Tetapi sewaktu keberhasilan sudah dicapai, terbukti seseorang akan mendapatkan ”pahala” yang tidak terperkirakan sebelumnya.
Sebagai calon guru dan guru, masing-masing memiliki hak untuk memilih dan menempati kuadran tertentu yang dikehendaki. Namun demikian ada ”kewajiban” yang harus dipenuhi manakala dirinya tidak ingin seperti orang pada umumnya. Dalam profesi guru, dan profesi apapun yang kita jumpai, pastilah ada kelompok minoritas di dalamnya. Kelompok minoritas menunjuk pada mereka yang secara kuantitas paling sedikit jumlahnya, namun memiliki kualitas yang lebih tinggi dan pastinya akan diikuti konsekuensi logisnya, seperti pendapatan yang lebih banyak, dsb.
Paparan di atas hendak menunjukkan sebab-sebab keberhasilan mencapai puncak usaha yang disingkat STM BB FM ME sebagai berikut:
  1. Sikap dan cara memandang sesuatu dari sisi positif.
  2. Tidak mudah menyerah, ada motivasi untuk sukses..
  3. Masalah diterima sebagai kesatuan dari keberhasilan.
  4. Berani mencoba sesuatu yang baru secara cerdas.
  5. Berani mengambil resiko, keluar dari zona nyaman.
  6. Fokus pada solusi, tidak terbelenggu pada masalah, ataupun kejayaan pada masa lalu.
  7. Memiliki etos kerja yang baik, aktif, kreatif.
  8. Memiliki banyak informasi.
  9. Etos kerja yang baik.
Faktor-faktor penyebab keberhasilan tersebut merupakan peneguhan terhadap keyakinan para calon guru dan guru bahwa menjadi guru adalah pilihan yang tepat. Selain tugas kemanusiaan yang amat mulia dan ladang ibadah yang tinggi nilainya, profesi ini juga dapat mendatangkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi pelakunya jika mereka dapat menempati posisi minoritas.
 
Kepustakaan:
Amir Tengku Ramli. 2005. Menjadi Guru Kaya melalui Perubahan paradigma To Be Quadran. Bekasi: Pustaka Inti.
Gordon Dryden & Jeannete Vos .2001. Revolusi Cara Belajar. Bandung: KIFA
Krathwohl, Bloom, Masia. 1973. Bahan Penataran Kurikulum Berbasis Kompetensi. UMK
Nistain Odop. 2007. Gagal Itu Baik. Built Your Own Potential with Power Fail. Yogyakarta: Media Pressindo.
Tony Buzan. 2005. Brain Child. Cara Pintar Membuat Anak Menjadi Pintar. Jakarta: Gramedia
Taufik Tea. 2009. Inspiring Teaching. Mendidik Penuh Inspirasi. Jakarta: Gema Insani.
Thomas Armstrong. 2005. Setiap Anak Cerdas. Panduan Membantu Anak Belajar dengan Memanfaatkan Multiple Intelligece-nya. Jakarta: Gramedia.

 http://uki-edukita.blogspot.com/2010/03/normal-0-false-false-false.html


Konsep dan Tujuan Pendidikan



Melihat dari pesatnya perkembangan dunia, yang ditandai dengan globalisasi maka Tujuan Pendidikan harus diarahkan pada pembentukan SDM yang memiliki out put yang handal. Diantara sekian banyak tujuan pendidikan yang telah di tetapkan berdasarkan Undang-undang Dasar No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah :
a. Pendidikan adalah usaha sadardan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bansa dan Negara.
b. Tujuan Pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
c. Tujuan Pendidikan Transformatif adalah sebuah transformasi radikal, atas kehidupan kita sendiri, komunitas, lingkungan dan seluruh masyarakat. Keadaan yang dialami sekarang di suatu tempat bukan keadaan final yang tak bisa dirubah. Keadaan itu harus dirubah, secara radikal, artinya harus dirubah dari akar-akarnya, yaitu nilai dominan masyarakat industri barat yang bertampang rakus dan ingin menguasai segalanya, termasuk manusia lain. Untuk menghadapinya kita perlu masuk jauh ke dalam nilai spiritual dasar yang diperjuangkan oleh semua agama, seperti kerja sama dan keadilan.

Jumat, 04 April 2014

Ketika Hati Melihat

Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka. Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis kecil yang membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya.

”Om beli bunga Om.”

”Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar eksekutif muda itu tetap sibuk dengan laptopnya.

”Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih atau istri Om,” rayu si gadis kecil.

Setengah kesal dengan nada tinggi karena merasa terganggu keasikannya si pemuda berkata, ”Adik kecil tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalo Om butuh Om akan beli bunga dari kamu.”

Mendengar ucapan si pemuda, gadis kecil itu pun kemudian beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar kafe itu. Setelah menyelesaikan istirahat siangnya, si pemuda segera beranjak dari kafe itu. Saat berjalan keluar ia berjumpa lagi dengan si gadis kecil penjual bunga yang kembali mendekatinya.

”Sudah selesai kerja Om, sekarang beli bunga ini dong Om, murah kok satu tangkai saja.” Bercampur antara jengkel dan kasihan si pemuda mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya.

”Ini uang 2000 rupiah buat kamu. Om tidak mau bunganya, anggap saja ini sedekah untuk kamu,” ujar si pemuda sambil mengangsurkan uangnya kepada si gadis kecil. Uang itu diambilnya, tetapi bukan untuk disimpan, melainkan ia berikan kepada pengemis tua yang kebetulan lewat di sekitar sana.

Pemuda itu keheranan dan sedikit tersinggung. ”Kenapa uang tadi tidak kamu ambil, malah kamu berikan kepada pengemis?” Dengan keluguannya si gadis kecil menjawab, ”Maaf Om, saya sudah berjanji dengan ibu saya bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari meminta-minta. Ibu saya selalu berpesan walaupun tidak punya uang kita tidak bolah menjadi pengemis.”

Pemuda itu tertegun, betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak kecil bahwa kerja adalah sebuah kehormatan, meski hasil tidak seberapa tetapi keringat yang menetes dari hasil kerja keras adalah sebuah kebanggaan. Si pemuda itu pun akhirnya mengeluarkan dompetnya dan membeli semua bunga-bunga itu, bukan karena kasihan, tapi karena semangat kerja dan keyakinan si anak kecil yang memberinya pelajaran berharga hari itu.

Tidak jarang kita menghargai pekerjaan sebatas pada uang atau upah yang diterima. Kerja akan bernilai lebih jika itu menjadi kebanggaan bagi kita. Sekecil apapun peran dalam sebuah pekerjaan, jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan memberi nilai kepada manusia itu sendiri. Dengan begitu, setiap tetes keringat yang mengucur akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita perjuangan.

Apapun pekerjaannya kita harus bangga dan tetap bersemangat, baik dengan bekerja sebagai entrepreneur maupun bekerja pada orang lain. Asalkan halal dan bermanfaat bagi diri sendiri dan sesama.

Rabu, 02 April 2014

The Pain of Being Human

Zoom
Satu
Wajahnya oriental, kecantikannya begitu khas. Kemudaannya hampir dikalahkan oleh keredupan sinar matanya. Ia bertutur dengan perlahan, mengungkapkan bahwa ia telah ‘salah terlahir’. Keburukan nenek moyangnya menurun padanya, tapi kebaikan-kebaikan mereka diturunkan pada sepupu-sepupunya. Tidak ada hal bagus sama sekali bisa ditemukannya dari dirinya. Di tengah kegundahannya ia berkata, “jadi manusia amat menyakitkan. Kesedihan dan kesepian datang tiba-tiba. Keramaian apapun tidak bisa menolong….”

Dua
Ia tergolek di ranjang salah satu rumah sakit yang terbaik untuk menangani pasien kanker di Jakarta. Bagi  keluarga dan kerabatnya, kondisi ibu cantik ini amat memukul. Ia orang yang punya selera humor tinggi, tangguh menghadapi penderitaan hidup, termasuk keretakan rumah tangganya, dan ia sukses dalam berkarir. Sekarang, tubuhnya kurus, payudara dan lengan sebelah kanannya bengkak. Kanker payudara membuatnya ambruk, setiap gerakan kecil membuatnya kesakitan. Obat pereda nyeri dimasukan ke dalam infusnya, untuk mengurangi penderitaannya. Dokter mengatakan sudah tidak sanggup melakukan operasi, karena jaringan parasit yang ganas sudah menyebar. Jalan terakhir: kemoterapi. Sebuah langkah yang amat menakutkan baginya.  Meski dalam pengaruh obat, membuatnya terus mengantuk, air mata menetes deras saat berjumpa dengan orang-orang yang mencintainya. Ia bilang tidak ingin dikasihani…

 
Pain & Tears
Sahabat, Anda pernah mengalami apa yang dirasakan sahabat-sahabat kita dalam zoom di atas? Kesedihan dan kesepian yang mendatangi Anda, nyaris setiap hari… Atau penyakit yang bersarang di tubuh Anda, yang sama sekali tidak Anda undang, yang menggerogoti bukan saja organ Anda, tapi semangat hidup Anda? Apakah Anda setuju bahwa menjadi manusia itu bisa begitu menyakitkan? Kita bisa senyum dan tertawa, tapi di saat lain, air mata yang rasanya asin (Anda pernah mencobanya, air mata terasa asin, lho!) kemudian mengalir seperti sungai melewati pipi dan bahkan leher Anda. Mata kita memang bisa begitu berbinar, penuh gairah hidup dan kegembiraan. Namun di sisi lain, sinar mata kita bisa begitu redup. Meskipun tubuh kita tergolong sehat, dan aneka imunisasi sudah pernah diberikan, namun sakit-penyakit masih bisa mampir mengganggu. Ada Sahabat yang begitu mengikuti pola hidup yang sehat, dan Anda hidup baik-baik (semoga Anda paham maksudnya). Tapi bisa saja Anda mendapatkan warisan sakit dari orang tua, apakah Anda terinfeksi HIV sejak lahir atau susunan genetis tertentu. Anda tidak memintanya, tapi Anda terlahir berbeda dengan orang kebanyakan, dan itu sama sekali tidak menyenangkan. Tubuh manusia bisa mendatangkan aneka kenikmatan. Lidah kita bisa merasakan kelezatan makanan enak, dan kulit kita mudah terbuai dengan kesejukan dan kelembutan. Tapi di sisi lain, tubuh kita bisa mendatangkan kenyerian yang tidak terperikan. Di satu sisi, kita bisa begitu hidup, bergembira, menikmati, dan merasakan aneka kebaikan, tetapi di sisi lain, kita bisa sungguh menginginkan kematian, merasa amat menderita, dan terpuruk. Saat-saat yang membuar kita ‘dipaksa’ untuk memahami, selain aneka kebahagiaan terlahir menjadi manusia, ada banyak kepedihan yang perlu kita tanggung.

Apa saja kepedihan besar yang perlu kita tanggung sebagai manusia? Saya membaginya ke dalam 3 besaran pokok:
1.      Kita terikat pada waktu, punya kenangan dan impian
2.      Kita terikat pada tempat dan hukum-hukum yang berlaku di dunia, karena kita tinggal di sini
3.      Kita bersifat fana, tidak kekal, kita bersifat mortal, bisa mati



Time: Kenangan dan Impian
Kita terikat waktu. Bagi Sahabat yang sedang amat bosan, meskipun Anda tidak suka, waktu tetap 24 jam sehari bagi Anda. Sama dengan Sahabat Anda yang sedang amat bahagia, sehingga 24 jam terasa kurang, tetap hanya 24 jam sehari. Meskipun penghayatan setiap orang tentang waktu berbeda-beda, ada yang waktu dihayati amat lambat (umum pada lansia) atau amat cepat (umum pada bayi dan anak-anak), namun kita tetap mengikuti alur waktu. Saat ini adalah sekarang. Sebelum sekarang adalah masa lalu, dan setelah sekarang adalah masa depan. Mengenai konsep waktu, ada 3 tipe orang (dibagi dalam penekanan salah satu waktu dalam hidupnya):

1.      Orang yang digerakkan dengan kenangan-kenangan (masa lalu)
Amat mungkin kita memiliki kenangan yang amat berbekas dalam hidup kita. Cukup banyak orang memiliki pengalaman indah, kemudian ingin hidup dalam kenangan itu terus. Pengalaman ketika kita disayang, dicintai, diinginkan, dimanja. Positifnya, kenangan itu memberikan kita kekuatan untuk menjalani masa kini, karena memahami sejarah bahwa kita pernah memiliki masa kanak-kanak yang indah. Negatifnya? Ada juga. Bila kita menjadi enggan untuk bertumbuh dewasa, dengan embel-embel semua tanggung jawab yang dibebankan kepada kita. Lebih enak jadi anak kecil, daripada jadi anak besar (nah, lho!). Bagaimana dengan pengalaman buruk? Ada yang sampai saat ini masih hidup dalam rasa sakit hati dan dendam, karena perlakuan buruk yang pernah diterima di masa lalu. Sudah berlalu (dari segi waktu), tapi tetap hidup dalam kenangan itu, sehingga kegetirannya masih dirasakan sampai saat ini. Atau ada pula yang justru sebaliknya, kenangan buruk di masa lalu dijadikan pemicu untuk menjalani kehidupan saat ini. Ada teman yang pernah bilang, “Dulu orang tua gue perlakukan gue jelek banget. Sekarang anak gue kudu dapat orang tua yang baik.”
2.      Orang yang digerakkan dengan masa kini
Orang-orang masa kini, digerakkan dengan apa yang dihadapi pada masa ini. Ada yang tidak segan-segan hidup hedon, mengejar kenikmatan, bersenang-senang. Ada yang memutuskan untuk bekerja keras, untuk hidup saat ini, boro-boro mikir menabung. Sekarang saja lapar tidak bisa belikan makanan untuk anak, mau mikir apa lagi? Positifnya, menikmati masa kini apa adanya, spontan, dan tidak terlalu terbeban (baik terbeban masa lalu maupun masa depan). Negatifnya? Ada juga, tidak berpikir panjang. Bukannya berpikir “nanti bagaimana?” melainkan “bagaimana nanti”. Artinya? Bisa nekat, bisa mengambil keputusan yang gegabah.
3.      Orang yang digerakkan dengan impian (masa depan)
Orang-orang masa depan, digerakkan untuk mencapai impian-impian jangka panjang. Ikut asuransi jiwa selama 15 tahun, mengumpulkan tabungan sebanyak-banyaknya untuk bayar anak kuliah nanti (sekarang anaknya masih di perut), membeli 2 petak tanah kuburan di pemakaman internasional (untuk rumah kalau nanti mati), membuat tabungan untuk hal tidak terduga, yang saldonya sudah bisa untuk jalan-jalan keliling dunia 2 kali,  dan sudah mencicil rumah untuk nanti kalau menikah (padahal sekarang baru saja putus sama pacar di semester 2 kuliah). Positifnya? Prepare, siap, sudah direncanakan. Negatifnya? Ada juga. Tidak spontan, memandang hidup terlalu berat, dan tegang.

So, bagaimana menyikapi waktu? Philip Zimbardo, psikolog yang karya-karyanya amat saya kagumi, setelah meluncurkan buku THE LUCIFER EFFECT yang disusunnya dari hasil penelitian, kemudian meluncurkan THE TIME PARADOX. Ia mengemukakan 3 kunci: reclaim yesterday, enjoy today, and master tomorrow. Bagaimana masa lalu kita maknai ulang, masa kini bisa sungguh kita nikmati, dan masa depan kita persiapkan untuk yang terbaik. Keseimbangan ini menjadi sebuah catatan penting.



Tempat dan Hukum Dunia
Sebagai manusia, kita terikat semua aturan main yang dilekatkan kepada kita selama hidup di dunia. Apa saja? Kita tunduk pada hukum gravitasi. Kalau loncat dari ketinggian, Anda akan jatuh ke bawah, bukan ke atas (hanya superman yang diijinkan tidak patuh pada hukum ini). Suka atau tidak suka, kita tunduk pada hukum tanam dan tuai. Apa yang ditanam, itulah yang dituai. Anda menanam sawo, jangan harap menuai duren, kecuali ada tetangga baik hati membawakan untuk Anda (diberi). Belajar dari sejarah, kita dicelikkan untuk melihat ini secara amat nyata. Louis XV hidup mewah dan selirnya amat dimanjakan, ketika rakyat Prancis amat miskin. Ia menanam apa? Bibit bagi terjadinya revolusi Prancis. Ia meninggal karena cacar air, sementara penerusnya, Louis XVI dan istrinya, Maria Antoinette dijatuhi hukuman mati dalam revolusi di Prancis. Apa yang kita tanam bertentangan dengan nilai luhur, entah kapan waktunya sudah siap, maka akan dituai juga yang buruk. Ada teman yang berkata, “meski caranya salah, tapi kan tujuannya benar.” Siapa bilang? Bukan hasil justru yang utama, tapi proses bagaimana mencapai hasil itu… kalau prosesnya salah, caranya salah, pasti hasilnya juga salah, itulah hukum, mengikat kita semua. Mengapa ini jadi kepedihan kita sebagai manusia? Karena kecenderungan kita untuk melakukan kesalahan. Kesalahan wajar dilakukan, kemudian bertobat, dan diperbaiki. Bagaimana kalau salah, kemudian tidak bertobat, dan malah menutupi kesalahan serapat-rapatnya sampai rela melakukan kesalahan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya? Terlalu mengerikan untuk mencobanya.

Sudah beberapa waktu ini saya banyak mengajak klien-klien untuk belajar dari opa dan oma lanjut usia. Caranya? Dengan bertanya kepada mereka, tentang apa yang menjadi sari pembelajaran dalam hidup mereka. Bertanya kepada 1 orang, kemudian yang lain lagi, dan yang lain lagi. Kita akan menemukan pola yang terpampang jelas. Apa yang paling penting dalam hidup, apa yang seringkali menjadi topik penyesalan dalam hidup, apa kebaikan dan keburukan yang manusia bisa lakukan dalam hidup. Anda tidak akan pernah menyesali berbincang-bincang dengan para opa dan oma ini. Kehidupan ini digerakkan dengan prinsip-prinsip. Siapa berjalan sesuai prinsip, akan ikut. Yang tidak bisa ikut prinsip, akan disingkirkan. Kalau mau berhasil, harus siap kerja keras. Kalau bisa ikut, Anda dapat. Kalau tidak bisa, maka keberhasilan hanya impian.  Sebegitu sederhana, namun justru seringkali tidak terlihat. Bagaimana manusia bertumbuh dari janin, lahir jadi bayi, kemudian kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, dan mati, semua mengajarkan prinsip-prinsip ini.

 
Fana: Kisah Tentang Ketidakkekalan Kita
Anda punya avatar di dunia maya? Sosok ideal yang Anda buat untuk menjadi ‘Anda lain’ yang lebih sempurna, lebih cantik/ tampan, lebih pintar, lebih hebat dan kuat, lebih terkenal, dan yang pasti IMORTAL. Avatar Anda abadi, tidak bisa mati. Sedangkan Anda dan saya, kita bisa mati. Saya pernah sungguh berjumpa dengan seorang yang amat takut mati. Setiap hari, ia minum aneka obat dan vitamin, sampai 15 butir setiap hari untuk menjaga staminanya. Ada vitamin mata, ada untuk kulit, ada vitamin C, ada vitamin E, ada kapsul untuk pencernaan, ada obat anti darah tinggi, belum obat-obatan anti depresan yang diresepkan psikiaternya. Banyak. Ia mengatakan, ia tidak boleh mati sekarang, karena kalau mati sekarang, ia pasti masuk neraka. Saya tanyakan, apa yang membuatnya berpikir demikian, dan ia menjawab, “Gue belum pernah melakukan kebaikan apapun dalam hidup gue. Satu-satunya hal baik yang gue lakukan adalah melalui avatar di dunia maya (yang ia buat di game on line-maksudnya), menyelamatkan orang lemah dari monster-monster. Selebihnya tidak ada.”

Memang menyakitkan, menyadari bahwa keberadaan kita di dunia ini hanya sementara saja. Bahwa apa yang kita lakukan saat ini, akan digantikan oleh orang-orang lain. Bahwa apa yang kita tanam saat ini, mungkin bukan kita yang rasakan, tapi penerus-penerus kita? Bahwa apa-apa yang menjadi miliki kita saat ini, sesungguhnya bukanlah milik kita yang hakiki? Bahwa kita tidak kekal dan pada waktu yang ditetapkan kita begitu saja akan ‘dipanggil pulang’ oleh yang menciptakan kita? Dan bahwa dunia ini (sekarang ataupun dunia yang baru) akan tetap baik-baik saja, dengan ada atau tidak adanya kita? Membuat kesombongan kita sebagai manusia tidak ada artinya sama sekali. Membuat kita sadar bahwa ‘kita hanyalah manusia’, kita bagian dari ciptaan, kita tidak bisa menjadi Tuhan. Kita membuat amat banyak lapisan pelindung, supaya kita bisa hidup enak dan mewah sampai 7 turunan, supaya kita tidak menjadi tua, supaya kita tidak kesakitan, supaya kita tidak mati, atau kalau toh kita mati, akan ada duplikat kita dengan peta kromosom yang persis sama. Hasilnya? Mari kita lihat di sekitar kita.



Kehidupan
Jadi, untuk apa kita hidup? Dengan semua kenyerian hidup sebagai manusia? Seorang pria bermata coklat mengatakan kepada saya “hidup itu untuk dimurnikan, untuk dimurnikan memang kita dikondisikan pada kondisi seperti sekarang, ada naik turunnya, ada misterinya, ada manisnya, ada pahit-getirnya.” Ada yang mengatakan hidup adalah lomba. Lomba apa? Perlombaan yang masih misteri kategori pemenangnya. Yang jelas, pemenang kehidupan bukanlah yang paling cepat, yang paling kuat, yang paling seksi/ cantik/ tampan, yang paling terkenal, yang paling kaya, yang paling berkuasa, yang paling pintar. Jadi pemenangnya siapa, donk? Yang paling murni… Yang mana yang paling murni? Yuk berporses bersama menemukannya, menemukan makna dari kehidupan kita.
Selamat menjalani kehidupan, dan memenangkan kehidupan Anda dan semakin dimurnikan….

Selamat mencintai dan selamat berkarya!
Jakarta, di rumah, sedang mengalami nyeri kepala akibat flu, 24 Maret 2014
Mona Sugianto, M.Psi, Psikolog
Managing Director Ad Familia Indonesia
www.adfamilia-indonesia.com
adfamilia.indonesia@gmail.com

Minggu, 16 Maret 2014

Paedagogi Tradisional dan Paedagogi Modern

1.      Makna Tradisional
Pedagogi ialah kajian mengenai pengajaran, khususnya pengajaran dalam pendidikan formal. Dengan kata lain, pedagogi ialah sains dan seni mengenai cara mengajar di sekolah.
Paedagogi berasal dari bahasa Yunani (παιδαγωγέω paidagōgeō; dari παίς país:anak dan άγω ági: ) atau paedagogia yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Di Yunani kuna, kata παιδαγωγός biasanya diterapkan pada budak yang mengawasi pendidikan anak majikannya. Termasuk didalamnya mengantarkan ke sekolah (διδασκαλείον) atau tempat latihan (γυμνάσιον), mengasuhnya, dan membawakan perbekalannya (seperti membawakan alat musiknya). Paedagagos berasal dari kata “paid” yang artinya “anak” dan “agogos” yang artinya “memimpin atau membimbing”. Darikata ini maka lahir istilah paedagogi yang diartikan sebagai suatu ilmu dan seni dalam mengajar anak-anak. Dalam perkembangan selanjutnya istilah paedagogi berubah menjadi ilmu dan seni mengajar. Paedagogi juga merupakan kajian mengenai pengajaran, khususnya pengajaran dalam pendidikan formal. Dengan kata lain, ia adalah sains dan seni mengenai cara mengajar di sekolah. Secara umumnya pedagogi merupakan mata pelajaran yang wajib bagi mereka yang ingin menjadi guru di sekolah. Sebagai satu bidang kajian yang luas, pedagogi melibatkkan kajian mengenai proses pengajaran dan pembelajaran, pengurusan bilik darjah, organisasi sekolah dan juga interaksi guru-pelajar.
Guru yang efektif senantiasa menggunakan alternatif strategi pembelajaran. Strategi yang berbeda digunakan dengan kombinasi yang berbeda untuk kelompok siswa yang berbeda, yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar.
Menurut Addine (2001), di antara prinsip-prinsip paedagogis terdapat kesatuan karakter ilmiah dan ideologis dari proses paedagogis. Karakter ilmiah dan ideologis ini menyoroti bahwa setiap proses paedagogis harus terstruktur berdasarkan temuan yang paling maju di bidang sains kontemporer dan dalam korespondensi total dengan ideologi kita. Selain itu, prinsip hubungan sekolah dan kehidupan didasarkan pada dua aspek penting: kaitan antara kehidupan dan pekerjaan sebagai kegiatan yang mendidik manusia. Prinsip lain yang berorientasi pada proses tersebut adalah salah satu yang mengombinasikan karakter kolektif dan individual pendidikan, serta penghormatan terhadap kepribadian siswa. Prinsip berikutnya merujuk pada kesatuan pengajaran, pendidikan dna perkembangan proses, karena didasarkan pada kesatuan dialektis antara pendidikan dan pengajaran yang harus terkait dengan kegiatan pembangunan pada umumnya. Prinsip terakhir dari proses paedagogis adalah bahwa masing-masing subsistem aktivitas, komunikasi, dan kepribadian saling terkait satu sama lain.
 Tiga Isu
·         Paedagogi merupakan sebuah proses yang memiliki tujuan. Dalam makna umum istilah ini sering digunakan untuk menjelaskan prinsip dan praktik mengajar anak-anak.
·         Banyak pekerjaan “paedagogi social” yang telah digunakan untuk menggambarkan prinsip-prinsip mengajar anak-anak dan kaum muda.
·         Sejauh mana pengertian paedagogi telah dipahami dan dominan mewarnai proses pembelajaran yang hanya dikaitkan dengan guru atau siswa semata.
Jadi, secara tradisional paedagogi adalah seni mengajar. Guru efektif senantiasa menggunakan alternative strategi pembelajaran, karena tidak ada pendekatan tunggal yang universal untuk semua bahan ajar dan situasi. Strategi yang berbeda digunakan dalam kelompok yang berbeda,yang diharapkan akan dpat meningkatkan hasil belajar.

2.      Normativ Vs Pragmatis
Paedagogi adalah isu strategis utama yang dihadapi profesi guru dan pendidik umum. Jika pendekatan Normativ sering dipandang terlalu utopis dan pendekatan pragmatis sering di persepsi sama problemtisnya dikaitkan dengan visi dan relevansinya bagi proses mengajar dan belajar di abad ini, karena itu, empat hal berikut ini memerlukan kajian yang lebih mendalam ketimbang sebatas mendeskripsikannya dipermukaan
a.       Definisi dan pemahaan paedagogi, khususnya dari presfektif komparatif. Secara Konsepsional paedagogi dipersepsi sebagai seni dan aplikasi kerja guru dalam proses pembelajaran untuk semua mata pelajaran.
b.      Munculnya  sebagai ilmu interdisipliner. Meskipun berada di fase formatif awal, fitur yang paling mencolok dari paedagogi modern adalah kebangkitannya sebagai ilmu interdisipiner.
c.       Paedagogi dan kaitannya dengan aspek-aspek ekonomi mengajar dan belajar. Paedagogi merupakan isu kunci dalam memajukan dan mempromosikan profesi guru untuk memperbarui apa yang oleh Robertson (2000) disebut sebagai “proyek professional guru”. Proses pembelajaran era ekonomi berbasis pengetahuan tidak mungkinmmneghindari konsepsi nilai ekomnomi dari mengajar dan belajar itu sendiri. Hal ini melahirkan konsep baru berkaitan dengan perluasan pedagogi, sehingga muncullah penggunaan isitilah-istilah seperti belajar seumur hidup dan “organisasi belajar”
d.      Faktor yang mendukung dan membatasi pengemmbangan paedagogi. Standart Profesional dapat memposisikan kurikulum sebagai pusat pembuatan kebijakan pendidikan (Davies dan Edward,2001). Menurut Dalton (2000) paedagogi umumnya “tersebar pada eluruh standart” baru, dimana hal tersebut belum terungkap secara jelas dalam laporan penelitian dan prinsip paedagogis sendiri. Dengan demikian, ketika melakukan standarisasi kurikulum, baik implisit maupun eksplisit, dimensi paedagogi dimungkinkan memberi pewarnaan secara signifikan.

3.      Model Logika
Baik sebagai seni maupun sebagai ilmu, pedagogi sesungguhnya adalah model logika, sebuah alat yang ampuh untuk meningkatkan mutu proses dan hasil belajar di semua satuan pendidikan atau sekolah.  Sumbangsih pedagogi harus dilihat dalam hubungan kausal untuk hal-hal berikut ini.
a.                       Masukan, yaitu pengetahuan dan sumber daya, baik pedagogis itu sendiri maupun konten pengetahuan, yang mendorong standar profesioanl dan mengarah pada praktikdan peningkatan hasil pembelajaran.
b.                       Proses, yaitu transformasi yang paling mungkin untuk meningkatkan hasil-hasil pembelajaran, misalnya, seperangkat kodifikasi yag jelas,  standar profesional yang  ekspilisit dan fasilitsi belajar yang profesioanl.
c.                       Hasil, yaitu meningkatkan hsail pembelajaran untuk semua siswa pada semua satuan pendidikan, serta hasil belajar guru itu sendiri selaku tenaga profesional.
Kajian atas ketiga komponen diatas, sesungguhnya tidak cukup. Masih diperlukan telaah mendalam dan berguna  untuk lebih memahami dan mengembangkan pedagogi dan standar pengajaran profesional, terutama berkaitan dengan tiga hal berikut:
a.       Situasi, berupa fokus, kebutuhan, masalah, atau tantangan yang harus diatasi oleh guru selama proses pembelajaran. Kegagalan untuk meningkatkan hasil pembelajarn yag paling sering terjadi jika masalah tidak diidentifikasikan atau dipahami sepenuhnya.
b.      Asumsi, yaitu teori, nilai, prinsip dan keyakinan yang tersirat dalam inisiatif apapun. Stadartitu sering diasumsikan secara eksplisit memuat bagaimana konseptualisasi kegiatan mengajar yang ideal.
c.       Pengaruh eksternal, yaitu politik,sosial, organisasi dan konteks kebijakan ekonomi yang memungkinkan atau membatasi pengembangan standar profesioanl, serta praktik dan hasil pembelajaran pada seluruh sistem atau tingkat sekolah.
Licin dan Samar
Memang, hingga kini pedagogi masih dipandang sebagai konsep yang licin dan samar-samar. Hal ini seharusnya tidak terjadi, karna ada tradisi penelitian yang kuat dibidang ini. Namun secara historis, kesulitan dalam mendefinisikan dan memahami pedagogi telah muncul sejak awal karena posisinya sebagi ilmu atau teori pada satu sisi dan seni atau praktik mengajar dan belajar pada sisi lain.
      Dalam praktik,implementasi kaidah-kaidah pedagogi berbenturan dengan upaya mempertahankan kekuasaan dan prestise semu atau karena pertimbangan yang “dibenarkan” mengingat subsidi guru yang terus menerus atau alasan nonakademik lainnya ( Salvatori,1996).
Ilmu Vs Seni Paeagogi
Teori Vs Praktik Paedagogi
Pengetahuan Paedagogis Vs Pengetahuan Ilmiah Mata Pelajaran
Kegiatan Mengajar Vs Kegiatan Belajar
4.      Paedagogi Modern
Pandanga tradisional memposisikan pedagogi sebatas seni mengajar atau mengasuh. Kini sangat kuat dan konsisten untuk mengembangkannya hubungan dieklatis yang bermanfaat antara pedagogi sebgai ilmu dan persfektif ini nampaknya palingideal.
Beberapa definisi yang terkait dengan pedagogi disajikan berikut ini;
a)      Pengajaran (teaching), yaitu teknik dan metode kerja guru dalam mentransformasikan konten pengetahuan, merangsang, mengawasi, dan memfasilitasi pengembangan sisiwa untuk mencapai tujuan pembelajaran yag berhasil.
b)      Belajar(learning), yaitu proses siswa mengembangkan kemandirian dan inisiatif dalam memperoleh dan meningkatkan pengentahuan serta keterampilan (seperti penyelidikan, berpikir kritis, kerjasama  tim, mengorganisasikan dan memecahkan masalah).
c)      Hubungan mengajar dengan belajar dengan segala factor lain yang mendorong minat pedagogi, misalnya siswa melakukan penelitian sederhana. Memang ada hubungan yang konstras bahwa aktifitas mengajar dan belajar itu kehilangan hubungan efikasi: siswa harus menjadi proaktif dan lebih otonom.
d)     Hubungan mengajar dan belajar berkaitan dengan semua pengaturan dan pada segala tahapan usia, yaitu, sebagaimana dikembangkan di lembaga-lembaga pendidikan formal dan nonformal dalam masyarakat, dalam keluarga dan dalam kehidupan kerja ( Cropley dan Dave,1978 ).

Pedagogi yang efektif menggabungkan alternatif strategi pembelajaran yang mendukung keterlibatan intelektual, memilki keterhubungan dengan dunia yang lebih luas, lingkungan kelas yang kondusif, dan pengakuan atas perbedaan penerapannya pada semua pelajaran.